Aku jauh-jauh meninggalkan kesedihanku demi
manuai kebahagiaan, namun yang kini aku temukan bukanlah kebahagiaan. Tapi yang
aku temukan baru ketenangan jiwa yang bisa mengusir kegalauan hatiku. Kapankah
aku bias gapai kebahaian itu sebenarnya…?. Dari langkahku yang pernah
tersandung karena cinta yang aku tanam dalam hatiku ternyata diracuni rasa
kecewa yang membunuh cintaku itu lansung pada akarnya. Namun aku menanam
cintaku kembali pada lahan hati yang kosong tak pernah tergarap oleh orang
lain, tapi aku ragu akan kesuburan lahan itu. Jadi aku tak menanam benih
cintaku pada lahan hati yang kosong itu. Bukan maksudku untuk menyakiti, tapi
aku takut karena keraguanku akan meruisak kesuburan lahan hati yang kosong itu.
Hampir dua tahun kini aku tinggalkan lahan
hati itu, aku ingin kembali menggarapnya. Namun aku sudah terlambat, karena
lahan hati yang aku maksud itu kini ditumbuhi pohon cinta yang begitu subur.
Bila dilihat dengan mata hati yang telanjang seakan dipupuk dengan kasih sayang
yang tiada hentinya. Apakah aku masih bias menanam sepotong setek cintaku
dilahan hati itu, walau lahan hati itu sudah ditumbuhi pohon cinta yang subur.
Dari sepotong setek cinta bisa tumbuh subur
bila dirawat dan dipupuk dengan kasih sayang, saling percaya, dan saling
menghargai. Bisakah aku melakukan hal itu pada lahan hati itu…?. Mungkin aku
bisa bila aku diberi satu kesempatan. Karena satu kesempatan itu sangatlah
berharga bagiku. Ada pepatah mengatakan 7
dikoleksi 2 dieliminasi 1 didedikasi. Kapan aku meracuni kepercayaan itu,
aku tak akan pernah mencoba manyentuh dan mendekati lahan hati itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar