Sekilas
saja Arif pandang wajah wanita di seberang jalan itu dan sekejap itulah
yang terindah bagi Arif. Mungkin benar bahwa sesuatu yang indah itu
bukanlah sesuatu yang lama atau banyak, karena kenikmatan itu ada karena
sedikit jumlahnya dan waktu yang tidak lama untuk menikmatinya.
Setidaknya setiap hari Arif bisa melihatnya walau sekejap saja karena
Arif tak ingin memandangnya terlalu lama sehingga terbitlah rasa bosan
untuk memandangnya. Mungkin sekejap terlalu cepat tapi untuk ukuran
orang yang sedang jatuh cinta maka sekejap itu sebenarnya ukuran yang
lama bagi meraka yang sedang tidak jatuh cinta.
“Rif, sudahlah jangan kau memandangi wanita itu seperti itu. kau akan membuatnya takut, dikiranya kau akan memperkosanya.”
“Ahhh…” Arif hanya
bisa mendesah mendengar temannya mengoceh sedari tadi karena memang
sedari tadi Arif telah menelantarkannya. Arif keasikan dengan fantasinya
sendiri dengan gadis cantik di seberang jalan sana yang sedang sibuk
dalam kerjanya.
Telah
cukup lama Arif menjalani rutinitas ini, memandang gadis berambut hitam
dan panjang, bermata hitam, dan tinggi tubuh yang proporsional untuk
menjadi seorang model professional. Aini namanya, Arif tahu namanya
karena Andi memberi tahu namanya setelah ia tahu bahwa
kegiatan siang hari di depan kantor yang seperti sebuah percakapan
antara 2 orang teman nyatanya hanya menjadi acara satu orang saja untuk
memandangi wanita yang dipujanya di seberang jalan.
“Rif, udah jam satu nich. Kita harus kembali kerja, membanting tulang-belulang ini dan memeras keringat kita.hahahaha”
“Entar ah Di,
nanggung.” Jawab Arif sekenanya tanpa memandang Andi karena matanya
masih tertuju pada gadis berambut hitam panjang di seberang jalan, Aini.
“Gua duluan kalo gitu.”
“Ok kau duluan saja karena sejuta pandangku untuknya belum selesai.” jawab Arif datar.
***
Dengan langkah yang
penuh wibawa pak Herman, direktur dari perusahaan dimana Arif dan Andi
bekerja berjalan menuju meja kerja Andi.
“Di, mana Arif?” tanya pak Herman layaknya seorang pentolan preman yang mencari musuh yang telah masuk ke daerah kekuasaannya.
“Ehm,,,”
“Ehm apa? Mana Arif? Laporan bulanan sudah saya tunggu tapi tidak juga di antar ke ruangan saya.”
“Arif masih di bawah pak.”
“Suruh dia ke ruangan saya secepatnya.”
***
“Maaf pak, bapak
memanggil saya?” Tanya Arif dengan nada yang ketakutan karena tahu bahwa
badai, topan, gempa, tsunami dan berbagai macam bencana menakutkan yang
lainnya akan terjadi pada hidupnya sebentar lagi.
“Duduklah! Mana
laporan bulanan yang seharusnya kau berikan padaku kemarin? Dan kenapa
kau selalu terlambat dari istirahat setiap hari, apakah kau makan batu
sehingga terlalu sulit untuk kau kunyah?” serbu pak Herman kepada Arif.
Dengan gagap Arif
menjawab serbuan pak Herman kepadanya “Laporan nanti sore akan saya
serahkan pak dan saya tidak makan batu setiap istirahat.”
“Arif, kau tahu
tindakanmu ini sangat merugikan perusahaan dimana kau telat mengumpulkan
laporan bulanan dan kau selalu terlambat untuk kembali bekerja. Kau
hitung sendiri jika kau telat 15 menit setiap harinya maka jika selama
setahun ini kau terlambat terus maka sudah berapa jam yang kau korupsi
dariku?”
Arif hanya menunduk tanpa berani menjawab pertanyaan dari bosnya itu.
“Aini, tentu kau kenal
bukan. Gadis yang bekerja di café seberang?” tiba-tiba pak Herman
mengalihkan pembicaraan dan membuat Arif terkejut karena nama wanita
yang disebut bosnya adalah wanita yang setiap hari dipandangnya sehingga
dia selalu terlambat kembali bekerja. Kemudian Herman melanjutkan
kata-katanya tanpa mengharap jawab dari anak buahnya itu. “Kemarin aku
berbincang dengannya cukup lama, di rumahnya. Aku juga berbincang dengan
kedua orang tuannya karena aku datang ke sana untuk melamar Aini.
Tentu, bukan untukku tapi untuk karyawan di sini yang begitu
mencintainya.”
“Maaf pak, tapi ini
soal apa kiranya?” ternyata bencana topan, badai, gempa dan tsunami yang
ditakuti arif tadi tak begitu mengerikan dari berita yang didengarnya
siang ini.
“Iya semua itu benar
Rif, walau awalnya Aini ragu untuk menerima lamaran yang ku bawa
untuknya tapi kemudian aku dapat meyakinkannya bahwa pria yang ku wakili
benar-benar mencintainya. Dan aku juga ingin minta maaf.”
“Maaf untuk apa pak?” Arif bertanya ragu karena tak tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana.
“Aku tahu Rif kau
begitu mencintai wanita ini, karena setiap hari aku tahu kau selalu
memandang lama ke café dimana Aini bekerja dan itulah yang membuatmu
terlambat kembali bekerja setelah istirahat.”
“Pak…” Arif ingin menyanggah apa yang di katakana oleh bosnya tapi kata-katanya dipotong cepat oleh pak Herman.
“Sudahlah Rif tak usah
kau mengelak, aku melamar gadis itu untuk karyawanku karena aku
berpikir jika gadis itu sudah menikah nantinya maka kau akan konsentrasi
bekerja karena gadis yang kau miliki sekarang sudah bersuami. Kau
adalah karyawanku yang paling bersinar sebelumnya maka aku tak ingin
kehilangan potensimu hanya karena pikiranmu tak focus karena gadis itu.
tidakkah kau ingin tahu siapa lelaki yang beruntung mendapatkan Aini?”
“Saya rasa tidak pak,
tak ada gunanya saya mengetahui lelaki yang menghancurkan fantasi saya
dengan gadis idaman saya.” Arif menjawab tegas dan sekaligus mengungkap
perasaannya kepada Aini.
“Sungguh kau tidak ingin tahu? Kau akan rugi jika kau tidak tahu.”
“Terima kasih pak, saya harus kembali bekerja dan menyelesaikan laporan saya.” Arif kemudian berdiri dan berjalan keluar.
“Arif Wibowo.” Pak Herman berkata datar ketika Arif hampir membuka pintu.
“Iya pak, ada yang saya bantu lagi?” tanya Arif yang sudah tidak bersemangat untuk melanjutkan pembicaraan.
“Arif Wibowo,,, ya,
Arif Wibowo. Kalau ingatanku tidak salah maka pria yang akan mendapatkan
Aini adalah kau.” Untuk pertama kalinya pak Herman tersenyum siang itu.
“Maaf pak, lelucon apa lagi ini?”
“Aku tak melucu Rif,
kau mau atau tidak menjadi suami Aini? Jika tidak maka sore nanti aku
akan ke rumah Aini untuk membatalkan lamaranku kemarin dan tentunya aku
akan sangat kecewa padamu.”
Semua
terasa bagai mimpi bagi Arif karena semua ini terasa tak nyata. Tetapi
sekeluarnya dia dari ruang pak Herman maka jelaslah sudah karena semua
adalah ulah Andi, teman baiknya, Andi, dengan sabarnya menjelaskan
tentang perihal yang ia tak pahami barusan. Bahwa pak Herman terlalu
kawatir dengan Arif karena pekerjaannya sering terlantar dan Andi
menjelaskan bahwa akar permasalahan itu adalah seorang wanita yang
dipuja oleh Arif. Akhirnya pak Herman dengan sifat kebapakanya
mengunjungi Aini beberapa kali di Café dan berbincang banyak tentang
Arif.
Sore
harinya ketika Arif berjalan keluar dari kantor, dilihatnya Aini dengan
pak Herman sedang berbincang sembari mengumbar senyum dan tawa. Herman
pun memanggil Arif untuk bergabung dan sekaligus untuk pertama kalinya
berbincang dengan Aini sang gadis pujaannya. Cinta kadang tak butuh
ungkapan dari sang pencintanya karena akan ada selalu sang pembela cinta
yang berusaha untuk menyatukan insan yang mencinta. Aini dan Arif walau
tak pernah ada kata keluar dari mulut mereka tapi hati mereka telah
lama berbincang lewat tatap mata yang sering berjumpa. Dan sejuta
pandang dari Arif untuk Aini telah meluluhkan hati gadis itu. Cinta
kadang butuh sejuta kata untuk mengungkapkannya tapi cinta juga tak
membuthkan satu katapun untuk mengungkapkan rasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar