-->

djangan ditangkap yach....!!!

Kamis, 26 Januari 2012

sejuta pandangku untukmu

Sekilas saja Arif pandang wajah wanita di seberang jalan itu dan sekejap itulah yang terindah bagi Arif. Mungkin benar bahwa sesuatu yang indah itu bukanlah sesuatu yang lama atau banyak, karena kenikmatan itu ada karena sedikit jumlahnya dan waktu yang tidak lama untuk menikmatinya. Setidaknya setiap hari Arif bisa melihatnya walau sekejap saja karena Arif tak ingin memandangnya terlalu lama sehingga terbitlah rasa bosan untuk memandangnya. Mungkin sekejap terlalu cepat tapi untuk ukuran orang yang sedang jatuh cinta maka sekejap itu sebenarnya ukuran yang lama bagi meraka yang sedang tidak jatuh cinta.
“Rif, sudahlah jangan kau memandangi wanita itu seperti itu. kau akan membuatnya takut, dikiranya kau akan memperkosanya.”
“Ahhh…” Arif hanya bisa mendesah mendengar temannya mengoceh sedari tadi karena memang sedari tadi Arif telah menelantarkannya. Arif keasikan dengan fantasinya sendiri dengan gadis cantik di seberang jalan sana yang sedang sibuk dalam kerjanya.
Telah cukup lama Arif menjalani rutinitas ini, memandang gadis berambut hitam dan panjang, bermata hitam, dan tinggi tubuh yang proporsional untuk menjadi seorang model professional. Aini namanya, Arif tahu namanya karena Andi memberi tahu namanya setelah ia tahu bahwa kegiatan siang hari di depan kantor yang seperti sebuah percakapan antara 2 orang teman nyatanya hanya menjadi acara satu orang saja untuk memandangi wanita yang dipujanya di seberang jalan.
“Rif, udah jam satu nich. Kita harus kembali kerja, membanting tulang-belulang ini dan memeras keringat kita.hahahaha”
“Entar ah Di, nanggung.” Jawab Arif sekenanya tanpa memandang Andi karena matanya masih tertuju pada gadis berambut hitam panjang di seberang jalan, Aini.
“Gua duluan kalo gitu.”
“Ok kau duluan saja karena sejuta pandangku untuknya belum selesai.” jawab Arif datar.
***
Dengan langkah yang penuh wibawa pak Herman, direktur dari perusahaan dimana Arif dan Andi bekerja berjalan menuju meja kerja Andi.
“Di, mana Arif?” tanya pak Herman layaknya seorang pentolan preman yang mencari musuh yang telah masuk ke daerah kekuasaannya.
“Ehm,,,”
“Ehm apa? Mana Arif? Laporan bulanan sudah saya tunggu tapi tidak juga di antar ke ruangan saya.”
“Arif masih di bawah pak.”
“Suruh dia ke ruangan saya secepatnya.”
***
“Maaf pak, bapak memanggil saya?” Tanya Arif dengan nada yang ketakutan karena tahu bahwa badai, topan, gempa, tsunami dan berbagai macam bencana menakutkan yang lainnya akan terjadi pada hidupnya sebentar lagi.
“Duduklah! Mana laporan bulanan yang seharusnya kau berikan padaku kemarin? Dan kenapa kau selalu terlambat dari istirahat setiap hari, apakah kau makan batu sehingga terlalu sulit untuk kau kunyah?” serbu pak Herman kepada Arif.
Dengan gagap Arif menjawab serbuan pak Herman kepadanya “Laporan nanti sore akan saya serahkan pak dan saya tidak makan batu setiap istirahat.”
“Arif, kau tahu tindakanmu ini sangat merugikan perusahaan dimana kau telat mengumpulkan laporan bulanan dan kau selalu terlambat untuk kembali bekerja. Kau hitung sendiri jika kau telat 15 menit setiap harinya maka jika selama setahun ini kau terlambat terus maka sudah berapa jam yang kau korupsi dariku?”
Arif hanya menunduk tanpa berani menjawab pertanyaan dari bosnya itu.
“Aini, tentu kau kenal bukan. Gadis yang bekerja di café seberang?” tiba-tiba pak Herman mengalihkan pembicaraan dan membuat Arif terkejut karena nama wanita yang disebut bosnya adalah wanita yang setiap hari dipandangnya sehingga dia selalu terlambat kembali bekerja. Kemudian Herman melanjutkan kata-katanya tanpa mengharap jawab dari anak buahnya itu. “Kemarin aku berbincang dengannya cukup lama, di rumahnya. Aku juga berbincang dengan kedua orang tuannya karena aku datang ke sana untuk melamar Aini. Tentu, bukan untukku tapi untuk karyawan di sini yang begitu mencintainya.”
“Maaf pak, tapi ini soal apa kiranya?” ternyata bencana topan, badai, gempa dan tsunami yang ditakuti arif tadi tak begitu mengerikan dari berita yang didengarnya siang ini.
“Iya semua itu benar Rif, walau awalnya Aini ragu untuk menerima lamaran yang ku bawa untuknya tapi kemudian aku dapat meyakinkannya bahwa pria yang ku wakili benar-benar mencintainya. Dan aku juga ingin minta maaf.”
“Maaf untuk apa pak?” Arif bertanya ragu karena tak tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana.
“Aku tahu Rif kau begitu mencintai wanita ini, karena setiap hari aku tahu kau selalu memandang lama ke café dimana Aini bekerja dan itulah yang membuatmu terlambat kembali bekerja setelah istirahat.”
“Pak…” Arif ingin menyanggah apa yang di katakana oleh bosnya tapi kata-katanya dipotong cepat oleh pak Herman.
“Sudahlah Rif tak usah kau mengelak, aku melamar gadis itu untuk karyawanku karena aku berpikir jika gadis itu sudah menikah nantinya maka kau akan konsentrasi bekerja karena gadis yang kau miliki sekarang sudah bersuami. Kau adalah karyawanku yang paling bersinar sebelumnya maka aku tak ingin kehilangan potensimu hanya karena pikiranmu tak focus karena gadis itu. tidakkah kau ingin tahu siapa lelaki yang beruntung mendapatkan Aini?”
“Saya rasa tidak pak, tak ada gunanya saya mengetahui lelaki yang menghancurkan fantasi saya dengan gadis idaman saya.” Arif menjawab tegas dan sekaligus mengungkap perasaannya kepada Aini.
“Sungguh kau tidak ingin tahu? Kau akan rugi jika kau tidak tahu.”
“Terima kasih pak, saya harus kembali bekerja dan menyelesaikan laporan saya.” Arif kemudian berdiri dan berjalan keluar.
“Arif Wibowo.” Pak Herman berkata datar ketika Arif hampir membuka pintu.
“Iya pak, ada yang saya bantu lagi?” tanya Arif yang sudah tidak bersemangat untuk melanjutkan pembicaraan.
“Arif Wibowo,,, ya, Arif Wibowo. Kalau ingatanku tidak salah maka pria yang akan mendapatkan Aini adalah kau.” Untuk pertama kalinya pak Herman tersenyum siang itu.
“Maaf pak, lelucon apa lagi ini?”
“Aku tak melucu Rif, kau mau atau tidak menjadi suami Aini? Jika tidak maka sore nanti aku akan ke rumah Aini untuk membatalkan lamaranku kemarin dan tentunya aku akan sangat kecewa padamu.”
Semua terasa bagai mimpi bagi Arif karena semua ini terasa tak nyata. Tetapi sekeluarnya dia dari ruang pak Herman maka jelaslah sudah karena semua adalah ulah Andi, teman baiknya, Andi, dengan sabarnya menjelaskan tentang perihal yang ia tak pahami barusan. Bahwa pak Herman terlalu kawatir dengan Arif karena pekerjaannya sering terlantar dan Andi menjelaskan bahwa akar permasalahan itu adalah seorang wanita yang dipuja oleh Arif. Akhirnya pak Herman dengan sifat kebapakanya mengunjungi Aini beberapa kali di Café dan berbincang banyak tentang Arif.
Sore harinya ketika Arif berjalan keluar dari kantor, dilihatnya Aini dengan pak Herman sedang berbincang sembari mengumbar senyum dan tawa. Herman pun memanggil Arif untuk bergabung dan sekaligus untuk pertama kalinya berbincang dengan Aini sang gadis pujaannya. Cinta kadang tak butuh ungkapan dari sang pencintanya karena akan ada selalu sang pembela cinta yang berusaha untuk menyatukan insan yang mencinta. Aini dan Arif walau tak pernah ada kata keluar dari mulut mereka tapi hati mereka telah lama berbincang lewat tatap mata yang sering berjumpa. Dan sejuta pandang dari Arif untuk Aini telah meluluhkan hati gadis itu. Cinta kadang butuh sejuta kata untuk mengungkapkannya tapi cinta juga tak membuthkan satu katapun untuk mengungkapkan rasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar